Stimulus Kontekstual Spasial: Dinamika litosfer, atmosfer, dan hidrosfer
Indonesia, sebagai negara kepulauan yang terletak di Cincin Api Pasifik dan memiliki iklim tropis, sering dihadapkan pada berbagai fenomena geografi yang dinamis. Dalam beberapa dekade terakhir, frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, tanah longsor, dan kekeringan ekstrem cenderung meningkat. Perubahan iklim global memicu anomali cuaca yang ekstrem, seperti curah hujan sangat tinggi dalam waktu singkat atau musim kemarau yang lebih panjang. Di sisi lain, perubahan tata guna lahan, deforestasi di daerah hulu, serta urbanisasi yang tidak terkontrol di wilayah hilir, turut memperparah dampak dari fenomena alam tersebut. Interaksi antara dinamika atmosfer (pola curah hujan ekstrem), hidrosfer (banjir, kekeringan), dan litosfer (erosi, tanah longsor akibat destabilisasi lahan) menciptakan tantangan kompleks bagi keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat. Pemahaman akan interkoneksi ini menjadi krusial untuk mitigasi dan adaptasi bencana.
Soal 1: Berdasarkan stimulus, pernyataan berikut yang menggambarkan interkoneksi antara dinamika litosfer, atmosfer, dan hidrosfer dalam konteks bencana hidrometeorologi di Indonesia adalah...
- Peningkatan curah hujan ekstrem (atmosfer) dapat mempercepat proses erosi dan tanah longsor (litosfer) jika tidak ada vegetasi penahan.
- Deforestasi (perubahan litosfer) di daerah hulu menyebabkan peningkatan aliran permukaan (hidrosfer) dan memperburuk banjir di hilir.
- Urbanisasi yang tidak terkontrol (perubahan litosfer) secara langsung menurunkan intensitas curah hujan (atmosfer) di wilayah tersebut.
- Perubahan iklim global (atmosfer) memicu kenaikan muka air laut (hidrosfer) yang mengancam wilayah pesisir (litosfer).
- Aktivitas tektonik (litosfer) adalah penyebab utama perubahan pola curah hujan ekstrem (atmosfer) di Indonesia.
Soal 2: Pernyataan-pernyataan berikut yang menunjukkan bagaimana aktivitas manusia memperparah dinamika bencana hidrometeorologi menurut stimulus adalah...
- Deforestasi di daerah hulu memperburuk kemampuan tanah menahan air, meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor.
- Urbanisasi yang tidak terkontrol memperluas daerah resapan air alami, sehingga mengurangi risiko genangan.
- Pembangunan infrastruktur tanpa analisis dampak lingkungan dapat mengubah aliran air alami dan memperparah banjir.
- Penerapan pertanian monokultur secara luas di daerah lereng meningkatkan stabilitas tanah terhadap erosi.
- Pengelolaan sampah yang buruk di perkotaan menyumbat saluran air, memperparah dampak banjir.
Soal 3: Berdasarkan stimulus, dampak perubahan iklim global terhadap dinamika hidrometeorologi di Indonesia dapat dilihat dari fenomena...
- Peningkatan frekuensi dan intensitas curah hujan ekstrem.
- Musim kemarau yang cenderung lebih panjang.
- Penurunan suhu rata-rata tahunan secara signifikan.
- Peningkatan jumlah kejadian gempa bumi dan letusan gunung berapi.
- Anomali cuaca yang tidak menentu, seperti pergeseran musim hujan atau kemarau.
Soal 4: Pemahaman interkoneksi antara dinamika litosfer, atmosfer, dan hidrosfer, seperti yang disebutkan dalam stimulus, sangat krusial untuk upaya mitigasi dan adaptasi bencana. Hal ini karena pemahaman tersebut dapat membantu dalam...
- Mengidentifikasi daerah rawan bencana dan memetakan risikonya secara akurat.
- Merancang sistem peringatan dini yang lebih efektif untuk bencana hidrometeorologi.
- Mengembangkan kebijakan tata ruang yang berkelanjutan dan meminimalkan risiko bencana.
- Memprediksi secara tepat kapan gempa bumi besar akan terjadi.
- Merumuskan strategi rehabilitasi lahan dan restorasi ekosistem yang tepat sasaran.
Soal 5: Fenomena peningkatan bencana hidrometeorologi akibat interaksi litosfer, atmosfer, dan hidrosfer yang diperparah oleh aktivitas manusia, mencerminkan prinsip geografi, seperti...
- Prinsip interelasi, di mana satu fenomena mempengaruhi fenomena lainnya.
- Prinsip deskripsi, hanya menjelaskan lokasi kejadian tanpa kaitan kausalitas.
- Prinsip persebaran, karena frekuensi bencana hidrometeorologi bervariasi di setiap wilayah di Indonesia.
- Prinsip korologi, yang memadukan prinsip-prinsip lain untuk analisis komprehensif suatu wilayah.
- Prinsip kronologi, yang membahas urutan waktu peristiwa geologis purba secara spesifik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar