Senin, 22 September 2025

TKA : SIG PGK (Lv 2)

Stimulus Kontekstual Spasial: Peta, skala, proyeksi, dan SIG


Studi Kasus Singkat: Perencanaan Tata Ruang Provinsi HarapanProvinsi Harapan, sebuah provinsi fiktif di Indonesia, sedang menghadapi tantangan pembangunan yang kompleks. Pertumbuhan penduduk yang pesat dan urbanisasi yang tidak terkendali telah menyebabkan berbagai masalah seperti kemacetan, banjir, dan alih fungsi lahan pertanian. Untuk mengatasi masalah ini dan mewujudkan pembangunan berkelanjutan, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Harapan memutuskan untuk menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang komprehensif.Dalam penyusunan RTRW ini, Bappeda mengintegrasikan Sistem Informasi Geografis (SIG) sebagai alat utama. Mereka mengumpulkan berbagai data spasial seperti batas administrasi, penggunaan lahan, jaringan jalan, pola curah hujan, elevasi, persebaran penduduk, serta lokasi fasilitas publik dan daerah rawan bencana. Data-data ini diakuisisi dari berbagai sumber, mulai dari citra satelit, peta topografi, hingga survei lapangan.Tim perencanaan perlu melakukan analisis spasial yang mendalam, termasuk identifikasi lahan pertanian produktif, penentuan lokasi ideal untuk infrastruktur baru, analisis risiko bencana, dan pemodelan pertumbuhan kota. Hasil analisis ini akan divisualisasikan dalam bentuk peta tematik dengan skala yang bervariasi, mulai dari skala detail untuk tingkat kecamatan hingga skala umum untuk tingkat provinsi. Pemilihan proyeksi peta juga menjadi pertimbangan penting agar peta yang dihasilkan akurat dalam representasi luas, jarak, atau bentuk, sesuai dengan kebutuhan analisis masing-masing. Mereka menyadari bahwa akurasi data dan ketepatan metode analisis SIG akan sangat menentukan kualitas keputusan yang diambil untuk masa depan Provinsi Harapan.

Soal 1: Berdasarkan studi kasus Provinsi Harapan, jenis data spasial apa saja yang sangat penting untuk diintegrasikan dalam SIG guna menyusun RTRW yang komprehensif?

Soal 2: Keunggulan SIG yang paling relevan untuk membantu Bappeda Provinsi Harapan dalam menyusun RTRW adalah kemampuannya untuk...

Soal 3: Jika Bappeda Provinsi Harapan perlu membuat peta penggunaan lahan yang sangat detail untuk area perkotaan padat di tingkat kecamatan, skala peta yang paling sesuai untuk tujuan analisis dan presentasi adalah...

Soal 4: Untuk analisis yang memerlukan perhitungan luas lahan secara akurat di Provinsi Harapan, misalnya untuk zonasi pertanian atau perpajakan tanah, jenis proyeksi peta yang sebaiknya dipilih adalah yang memiliki sifat...

Soal 5: Dalam proses implementasi SIG untuk penyusunan RTRW Provinsi Harapan, beberapa tantangan umum yang mungkin dihadapi oleh Bappeda antara lain...

Soal 6: Untuk melakukan analisis risiko bencana (misalnya banjir dan tanah longsor) di Provinsi Harapan menggunakan SIG, data spasial kunci yang harus diintegrasikan meliputi...

Soal 7: Setelah melakukan berbagai analisis menggunakan SIG, Bappeda Provinsi Harapan dapat menghasilkan berbagai produk spasial yang berguna untuk presentasi dan pengambilan keputusan, yaitu...

Soal 8: Apabila Bappeda Provinsi Harapan ingin menyiapkan peta ringkasan pembangunan provinsi untuk publik, yang akan dicetak pada ukuran kertas A3, maka pertimbangan terkait skala dan generalisasi peta yang harus diperhatikan adalah...

Soal 9: Dibandingkan dengan metode pemetaan dan analisis manual, penggunaan SIG dalam penyusunan RTRW Provinsi Harapan memiliki keunggulan utama, antara lain...

Soal 10: Untuk analisis jaringan transportasi dan penentuan rute optimal di Provinsi Harapan, di mana akurasi arah dan bentuk sangat penting, Bappeda sebaiknya mempertimbangkan proyeksi peta yang memiliki sifat...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar