Geografi Pembangunan & Teori Keruangan
Pembangunan bukan sekadar pertumbuhan ekonomi — ia adalah perluasan kebebasan dan kapabilitas manusia. Geografi pembangunan mengkaji mengapa kemakmuran tersebar tidak merata di ruang, dan bagaimana pola tersebut bisa diubah.
Pengantar Geografi Pembangunan
Geografi pembangunan mengkaji proses dan pola pembangunan ekonomi dan sosial di berbagai skala ruang — mengapa ada wilayah kaya dan miskin, bagaimana pembangunan menyebar, dan apa yang menghalanginya.
Pembangunan (development) awalnya diartikan sempit sebagai pertumbuhan ekonomi — kenaikan GDP per kapita. Tapi sejak 1990an, konsep ini berkembang jauh lebih luas:
| Era | Konsep Pembangunan Dominan | Ukuran Utama |
|---|---|---|
| 1950–1960an | Modernisasi & industrialisasi. Pembangunan = pertumbuhan ekonomi. Negara berkembang harus "mengejar" negara maju. | GDP per kapita, laju pertumbuhan ekonomi |
| 1970an | "Redistribution with growth" — pertumbuhan saja tidak cukup jika tidak merata. Basic needs approach: fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar (pangan, air, kesehatan, pendidikan). | Distribusi pendapatan, akses layanan dasar |
| 1980an | Structural Adjustment Programs IMF/World Bank: liberalisasi, privatisasi, deregulasi. "Washington Consensus." | Defisit fiskal, inflasi, neraca pembayaran |
| 1990an | Human Development. Amartya Sen: pembangunan = perluasan kebebasan dan kapabilitas manusia. UNDP → HDI. | HDI (kesehatan + pendidikan + pendapatan) |
| 2000an–kini | Sustainable Development. Pembangunan harus menjaga batas ekologi planet. SDGs mengintegrasikan ekonomi, sosial, dan lingkungan. | SDG indicators, Planetary Boundaries, MPI |
| Indikator | Komponen | Kelebihan | Keterbatasan Kritis |
|---|---|---|---|
| GDP per Kapita (PPP) | Output ekonomi total / jumlah penduduk, disesuaikan daya beli | Mudah dihitung, data tersedia luas, mencerminkan produktivitas ekonomi | Tidak mencerminkan distribusi (Gini). Tidak menghitung kerja rumah tangga. Tidak mengurangi biaya degradasi lingkungan. "GDP bisa naik saat hutan ditebang." |
| HDI (Human Development Index) | Harapan hidup + pendidikan (rata-rata tahun sekolah + harapan tahun sekolah) + GNI/kapita PPP | Lebih komprehensif. Bisa membedakan: negara GDP tinggi tapi HDI rendah (minyak + ketimpangan) vs HDI tinggi meski GDP menengah (pendidikan + kesehatan baik). | Masih tidak mengukur ketimpangan dalam negara. Tidak mengukur kebebasan politik atau keamanan. UNDP membuat IHDI (inequality-adjusted) sebagai pelengkap. |
| Gini Coefficient | 0 = sempurna merata; 1 = satu orang punya semua. Biasanya 0.2–0.7 dalam praktik. | Ukuran ketimpangan pendapatan yang diterima luas. Mudah diinterpretasikan. | Dua negara dengan Gini sama bisa punya struktur ketimpangan sangat berbeda. Tidak membedakan sumber ketimpangan. |
| MPI (Multidimensional Poverty Index) | 10 indikator di 3 dimensi: kesehatan (gizi, kematian anak), pendidikan (sekolah, kehadiran), standar hidup (memasak, sanitasi, air, listrik, lantai, aset) | Menangkap kemiskinan yang tidak terlihat dalam data moneter. 1.1 miliar orang miskin MPI vs 700 juta miskin uang. | Bobot dimensi bersifat normatif. Data survei sulit di negara konflik. |
| GPI (Genuine Progress Indicator) | GDP + nilai kerja rumah tangga + nilai parenting − biaya kejahatan − biaya polusi − biaya kesenjangan − biaya pengurasan SDA | Mencerminkan "kesejahteraan nyata" lebih baik dari GDP. | Belum ada konsensus metodologi. Sulit dihitung secara konsisten antar negara. |
Pola Ekonomi Global
Aktivitas ekonomi global terdistribusi sangat tidak merata — mencerminkan akumulasi sejarah, faktor produksi, dan dinamika kekuasaan selama berabad-abad.
| Region | % GDP Global (PPP) | Spesialisasi Utama | Tren |
|---|---|---|---|
| China | ~18% | Manufaktur (dunia), teknologi, infrastruktur, EV, solar | Perlambatan pertumbuhan, middle-income trap risk, aging population |
| AS | ~16% | Teknologi tinggi, keuangan, pertanian, energi (shale), pertahanan | Reindustrialization push (CHIPS Act, IRA), polarisasi politik |
| EU | ~15% | Manufaktur presisi (Jerman), keuangan (UK/Luxembourg), farmasi, luxury goods | Transformasi energi, aging, deindustrialisasi parsial, tantangan competitiveness |
| India | ~7% | IT/outsourcing, farmasi generik, pertanian, tekstil | Pertumbuhan tercepat di antara ekonomi besar (6–7%/tahun). Bonus demografi. |
| Asia Tenggara | ~7% | Manufaktur menengah, perkebunan, pariwisata, digital economy | Beneficiary dari China+1 strategy. RCEP membuka akses pasar lebih besar. |
| Timur Tengah | ~5% | Minyak & gas, keuangan Islam, konstruksi, diversifikasi (Vision 2030) | Tekanan transisi energi mendorong diversifikasi agresif (Saudi, UAE) |
| Afrika Sub-Sahara | ~3% | Pertambangan, pertanian, mobile banking, manufaktur ringan | Pertumbuhan cepat tapi dari base kecil. "Africa rising" tapi juga governance challenges. |
| Amerika Latin | ~7% | Komoditas pertanian & mineral, manufaktur (Brasil, Meksiko), fintech | Commodity supercycle berakhir, middle income trap, political instability |
Spesialisasi regional mencerminkan prinsip comparative advantage yang berevolusi dari keunggulan alam (endowment) ke keunggulan yang diciptakan (created advantage):
Migrasi & Lapangan Kerja
Mobilitas tenaga kerja adalah salah satu ekspresi paling nyata dari pembangunan — orang berpindah mencari peluang yang lebih baik, dan pergerakan ini membentuk ulang ekonomi daerah asal dan tujuan secara simultan.
Paradoks globalisasi: modal dan barang bergerak semakin bebas, tapi tenaga kerja — manusia — justru paling dibatasi pergerakannya:
| Jenis Mobilitas | Tingkat Liberalisasi | Hambatan Utama | Tren |
|---|---|---|---|
| Modal Keuangan | Sangat tinggi — hampir bebas hambatan | Beberapa negara masih kontrol kapital (China, India) | Semakin bebas. Offshore financial centers melemahkan kontrol domestik. |
| Barang & Jasa | Tinggi — WTO dan FTA memfasilitasi | Tarif, kuota, standar teknis, SPS measures | Proteksionisme meningkat pasca 2016 tapi masih lebih terbuka dari era pra-WTO |
| Informasi & Pengetahuan | Sangat tinggi di internet era | Firewall (China, Rusia), IPR, digital divide | Mendekati free flow. AI mempercepatnya. |
| Tenaga Kerja / Manusia | Rendah — paling dibatasi | Visa, imigrasi, xenofobia, perbatasan fisik | Sedikit lebih terbuka (EU single market) tapi secara global masih sangat terbatas |
Migrasi dari pedesaan ke kota adalah proses paling masif dalam sejarah manusia. China mengalami migrasi internal terbesar: sekitar 280 juta migran pekerja (mingong) berpindah dari desa ke kota industri pesisir — menggerakkan industrialisasi terbesar dalam sejarah manusia tapi juga menciptakan masalah sosial besar (pemisahan keluarga, sistem hukou yang diskriminatif).
| Tren | Dampak pada Lapangan Kerja | Implikasi Geografis |
|---|---|---|
| Deindustrialisasi Prematur | Manufaktur menyusut sebelum negara berkembang cukup kaya — berbeda dari pola historis negara maju yang deindustrialisasi setelah kaya. Penyebab: otomasi, persaingan China, dan ekspor jasa yang lebih mudah. Efek: jutaan pekerja di LDC kehilangan jalur pembangunan melalui manufaktur. | Kota industri di Amerika Latin (Brasil) dan Afrika kehilangan lapangan kerja manufaktur sebelum membangun sektor jasa yang kuat. |
| Gig Economy & Platform Work | Uber, Grab, Gojek, Fiverr, Upwork — membuat 15–25% angkatan kerja di beberapa negara menjadi "gig workers." Fleksibel tapi tanpa jaminan sosial, kesehatan, atau pensiun. Debat: apakah ini kebebasan atau eksploitasi baru? | Platform economy bisa membawa akses pasar global ke tenaga kerja di LDC (remote work, freelancing). Tapi juga menciptakan "digital sweatshops." |
| Otomasi & AI | McKinsey: 800 juta pekerjaan global bisa terotomasi pada 2030. Pekerjaan paling rentan: repetitif, mudah diprediksi (pabrik, kasir, sopir, petugas admin). Pekerjaan paling aman: empati, kreativitas, hands-on complex tasks (perawat, plumber, pengajar). | Negara berkembang yang bergantung pada manufaktur padat karya paling terancam. "Robot tax" diusulkan untuk mendanai retraining. Universal Basic Income (UBI) kembali dibahas. |
| Green Jobs | Transisi energi menciptakan lapangan kerja baru: panel surya installer, wind turbine technician, EV mechanic, energy efficiency auditor. ILO: 24 juta green jobs baru pada 2030 jika transisi berjalan. | Distribusi green jobs sangat berbeda dari fossil fuel jobs — bukan otomatis di wilayah yang sama. Pekerja batubara di Kalimantan tidak otomatis bisa jadi installer solar panel. |
Pertumbuhan Kota
Urbanisasi adalah proses pembangunan yang paling konsisten dalam sejarah manusia — tapi cara kota tumbuh sangat berbeda antara negara berkembang dan maju, dan keduanya menghadapi tantangan berbeda.
Pada 2023, 56% populasi dunia tinggal di area urban. Pada 2050, proyeksi mencapai 68%. Tapi angka agregat ini menyembunyikan pola yang sangat berbeda:
| Region | Tingkat Urbanisasi 2023 | Laju Pertumbuhan Kota | Karakteristik |
|---|---|---|---|
| Amerika Latin & Karibia | 83% (lebih tinggi dari Eropa!) | 1.1%/tahun | Tinggi tapi tidak disertai industrialisasi memadai → "urbanization without industrialization" |
| Eropa Utara & Barat | 80–85% | 0.5–0.8%/tahun | Urbanisasi sudah sangat tinggi, pertumbuhan lambat. Suburbanisasi dan counter-urbanisasi. |
| Asia Timur | 65–70% | 1.0%/tahun | China urbanisasi sangat cepat dalam 30 tahun terakhir (dari 20% → 65%). Kini melambat. |
| Asia Selatan | 37% | 2.5%/tahun | Potensi urbanisasi sangat besar. India akan punya 800 juta penduduk urban pada 2050. |
| Afrika Sub-Sahara | 43% | 4–5%/tahun (tertinggi dunia) | Pertumbuhan kota paling cepat secara absolut. Mayoritas pertumbuhan masuk ke permukiman informal. |
Perubahan Lingkungan
Pembangunan ekonomi selama ini dicapai dengan mengeksploitasi modal alam — tapi biayanya kini semakin terlihat dalam bentuk krisis lingkungan yang mengancam fondasi pembangunan itu sendiri.
| Tekanan | Mekanisme | Data & Contoh | Solusi |
|---|---|---|---|
| Urban Heat Island | Aspal/beton menyerap panas, tidak ada evapotranspirasi, limbah panas AC dan kendaraan | Kota 2–7°C lebih panas dari pedesaan. Jakarta sering 5–7°C lebih panas dari Bogor yang berhutan. Peningkatan kebutuhan AC → lebih banyak emisi → lingkaran setan. | Green roofs, urban forests, reflective surfaces, water features, green corridors |
| Banjir Urban | Impermeabilisasi lahan → runoff 5–8× lebih cepat, drainase kewalahan | Jakarta: 40% wilayah di bawah muka laut. Banjir rutin. Kota-kota Asia tropis sangat rentan: Manila, Bangkok, Ho Chi Minh City. | Sponge city (China), permeable pavement, retention basin, restorasi sungai, mangrove restoration pesisir |
| Polusi Udara | Kendaraan (60–70%), industri, PLTU, pembakaran sampah | Delhi = paling tercemar. Jakarta AQI "Unhealthy" ~130 hari/tahun. PM2.5 kronis → penurunan IQ anak, harapan hidup berkurang 2–4 tahun. | Elektrifikasi kendaraan, tutup PLTU batu bara, ban pembakaran sampah, RTH |
| Urban Sprawl & Konversi Lahan | Ekspansi kota ke sawah, hutan, dan lahan produktif di pinggiran | Jabodetabek: 5.000–7.000 ha sawah/tahun hilang. Jakarta kehilangan 97% hutan mangrove. Indonesia kehilangan sumber air akibat deforestasi dan konversi DAS. | Urban growth boundary, densifikasi dalam kota, TOD, zoning ketat untuk lahan pertanian produktif |
Megaproyek infrastruktur selalu menciptakan trade-off yang kompleks antara manfaat pembangunan dan biaya lingkungan:
- Three Gorges Dam (China): 22.500 MW listrik bersih, pengendalian banjir, irigasi. Tapi: relokasi paksa 1.4 juta orang, kepunahan Yangtze river dolphin (baiji), perubahan ekosistem sungai, peningkatan risiko gempa, sedimentasi reservoir.
- Belt and Road Initiative (BRI): $1 triliun+ investasi infrastruktur di 140+ negara. Manfaat: infrastruktur yang sangat dibutuhkan LDC. Kontroversi: proyek merusak lingkungan (tambang, jalan di hutan), debt trap, kondisi tenaga kerja, dan erosi kedaulatan kebijakan.
- GERD Ethiopia: PLTA Nil Biru yang diklaim mengurangi aliran Nil ke Mesir dan Sudan → konflik air antar negara yang berpotensi menjadi konflik bersenjata. Air sebagai "casus belli" masa depan.
- Reklamasi Jakarta & Nusantara: reklamasi teluk Jakarta menghancurkan ekosistem pesisir dan livelihood nelayan tradisional. Ibu kota baru Nusantara di Kalimantan mengancam habitat orangutan dan hutan tropis yang tersisa.
• Ekonomi (efficiency, growth)
• Sosial (equity, inclusion)
• Lingkungan (ecological integrity)
Model "nested circles" lebih tepat dari Venn: ekonomi dalam masyarakat, masyarakat dalam ekosistem.
• Maximum Sustainable Yield (MSY) untuk perikanan
• Safe yield untuk akuifer
• Sustainable forest yield untuk kehutanan
• Carbon budget untuk iklim
Tantangan: selalu ada tekanan jangka pendek untuk over-exploit karena manfaat sekarang, biaya di masa depan.
Kemiskinan & Kesehatan
Kemiskinan dan kesehatan buruk saling memperkuat dalam lingkaran yang sangat sulit diputus. Ini bukan hanya masalah moral — secara ekonomi, kemiskinan dan penyakit membunuh produktivitas dan menghambat pembangunan.
| Dimensi | Angka Global (2023) | Konsentrasi Geografis | Penyebab Struktural |
|---|---|---|---|
| Kemiskinan Ekstrem (<$2.15/hari) | 700 juta jiwa (9% populasi dunia) | 60% di Sub-Sahara Afrika. 30% di Asia Selatan. Terbesar: Nigeria, DRC, India, Ethiopia, Bangladesh | Warisan kolonialisme, institusi ekstraktif, kurangnya akses modal dan pasar, konflik, perubahan iklim |
| Kemiskinan Multidimensi (MPI) | 1.1 miliar (14% populasi) | Afrika Sub-Sahara 534 juta. Asia Selatan 385 juta. Tumpang tindih tapi tidak sama dengan kemiskinan uang | Kekurangan di pendidikan, kesehatan, DAN standar hidup secara bersamaan. Kemiskinan struktural yang kompleks. |
| Kerawanan Pangan | 735 juta kekurangan gizi (2022, naik dari 650 juta 2019) | Sub-Sahara Afrika, Yaman, Afghanistan, Haiti, Sahel | Konflik (penyebab utama kelaparan modern), perubahan iklim, COVID, harga pangan global |
Kemiskinan di negara maju berbeda dari LDC — bukan soal kalori atau air bersih tapi soal exclusion (tersingkir dari partisipasi penuh dalam masyarakat) dan ketimpangan relatif:
- Kemiskinan Relatif: pendapatan di bawah 60% median nasional. Di AS: 11.5% penduduk dalam poverty (2022). Di EU: 21.6% "at risk of poverty." Standar ini jauh lebih tinggi dari $2.15/hari versi Bank Dunia.
- Working Poor: orang yang bekerja penuh waktu tapi tetap miskin karena upah terlalu rendah. 8% pekerja AS adalah "working poor." Menunjukkan bahwa "kerja keras" saja tidak cukup untuk keluar dari kemiskinan jika struktur upah tidak adil.
- Geographic Concentration: kemiskinan terkonsentrasi di bekas kota industri (Rust Belt AS, Northern England), daerah rural terpencil (Appalachia, Mississippi Delta), dan kantong perkotaan (South Side Chicago, banlieues Paris).
- Child Poverty: AS memiliki tingkat kemiskinan anak 11.6% — jauh lebih tinggi dari negara OECD lain. Dampak jangka panjang: toxic stress menghambat perkembangan otak, kesenjangan kesiapan sekolah, mobilitas sosial rendah.
| Indikator | Kemajuan 1990–2023 | Gap yang Tersisa | Tantangan Baru |
|---|---|---|---|
| Harapan Hidup | Naik 7.5 tahun (dari 65.4 → 72.9 tahun global) | Japan 84 tahun vs Chad 54 tahun. Gap 30 tahun mencerminkan ketimpangan sistemik akses kesehatan. | Perubahan iklim meningkatkan kematian akibat panas, penyakit tropis, banjir, dan malnutrisi. |
| Kematian Anak (U5MR) | Turun dari 93 ke 37 per 1000 (−60%). Penyelamat: vaksin, oralit (ORS), gizi, antibiotik. | Masih 5 juta anak meninggal/tahun. 50% di Sub-Sahara Afrika. Sebagian besar bisa dicegah dengan intervensi murah. | Antibiotic resistance mengancam membalikkan kemajuan dalam infeksi yang bisa diobati. |
| Malnutrisi | Stunting turun dari 33% (1990) ke 22% (2022) anak balita global | 149 juta anak masih stunted. Dampak seumur hidup: produktivitas berkurang 7–10%, risiko NCD meningkat. | "Double burden": stunting + obesitas terjadi bersamaan di banyak negara berkembang akibat transisi diet ke ultra-processed food. |
| Penyakit Menular | HIV/AIDS: kematian turun 68% sejak puncak 2004. Malaria: kematian turun 50% sejak 2000. | Tuberculosis masih membunuh 1.6 juta/tahun. HIV masih 650.000 kematian/tahun. NTDs (Neglected Tropical Diseases) masih melanda 1 miliar orang. | Antibiotic resistance adalah "silent pandemic" — bisa membunuh 10 juta/tahun pada 2050 jika tidak diatasi. |
| NCD (Penyakit Tidak Menular) | Beberapa negara berhasil kurangi kematian kardiovaskular melalui kebijakan kesehatan publik (anti-rokok, diet, olahraga). | 74% kematian global dari NCD. Tumbuh pesat di LDC akibat westernization of diet dan urban sedentary lifestyle. | "Double burden" NCD + infeksi. Health systems di LDC belum siap menanggung keduanya. |
WHO menegaskan: "Social conditions in which people are born, grow, live, work and age" adalah penentu terpenting kesehatan — jauh lebih penting dari faktor medis sendiri. Ini disebut Social Determinants of Health (SDH):
Teori-teori Keruangan
Teori keruangan berusaha menjelaskan dan memprediksi mengapa aktivitas manusia — pemukiman, industri, perdagangan, kota — berlokasi di mana letaknya, dan bagaimana lokasi-lokasi tersebut berinteraksi satu sama lain.
Aplikasi: retail gravity model — menghitung batas wilayah pelayanan antar dua pusat perbelanjaan. Breaking point = lokasi di mana daya tarik dua kota seimbang. Digunakan dalam perencanaan lokasi toko, rumah sakit, dan fasilitas publik.
Christaller mengembangkan teori distribusi dan hierarki kota berdasarkan dua konsep kunci:
| Prinsip Penyusunan | K Value | Logika | Pola Hierarki |
|---|---|---|---|
| Marketing Principle | K=3 | Memaksimalkan akses konsumen ke layanan. Pusat lebih rendah terletak di titik tengah tepi segitiga antara 3 pusat tingkat atas. | 1 kota orde 1 : 2 kota orde 2 : 6 kota orde 3 : 18 kota orde 4... |
| Transportation Principle | K=4 | Memaksimalkan efisiensi jaringan transportasi. Pusat lebih rendah terletak di tengah jalan antara 2 pusat tingkat atas. | 1 : 3 : 12 : 48... |
| Administrative Principle | K=7 | Memaksimalkan efisiensi kontrol administratif. Setiap pusat atas menguasai penuh 6 pusat di bawahnya. | 1 : 6 : 42 : 294... |
Menjelaskan pola penggunaan lahan kota berdasarkan kompetisi antara berbagai aktivitas untuk lokasi yang aksesibel. Setiap aktivitas memiliki kurva bid rent yang berbeda:
| Aktivitas | Bentuk Kurva Bid Rent | Lokasi Optimal | Penjelasan |
|---|---|---|---|
| Komersial Retail | Sangat curam (turun cepat dari CBD) | CBD & persimpangan utama | Setiap meter jauh dari CBD = kehilangan pelanggan yang sangat signifikan → harus di pusat |
| Perkantoran | Curam tapi lebih landai dari retail | CBD hingga inner suburb | Butuh aksesibilitas tapi tidak sekritis retail. Bisa di gedung pencakar langit CBD atau Business Park pinggiran. |
| Industri Ringan | Lebih landai | Pinggiran CBD hingga zona industri | Butuh akses jalan besar dan ruang luas. Tidak perlu di CBD. |
| Perumahan | Paling landai | Mid-ring hingga suburb | Orang bersedia tinggal jauh dari CBD jika harga lahan lebih murah. Distance-income trade-off. |
| Pertanian | Hampir horizontal (sangat landai) | Fringe & luar kota | Produktivitas tidak bergantung pada aksesibilitas CBD. Hanya butuh lahan murah dan tanah subur. |
Paul Krugman mengintegrasikan ekonomi skala, perdagangan, dan lokasi untuk menjelaskan mengapa industri berkluster dan kota tumbuh. Inti: trade-off antara centripetal forces (mendorong aglomerasi) dan centrifugal forces (mendorong dispersal).
| Centripetal Forces (Mendorong Aglomerasi) | Centrifugal Forces (Mendorong Dispersal) |
|---|---|
| Home market effect: pasar besar menarik produsen → lebih banyak pekerja → pasar lebih besar lagi (circular causation) | Land rent: harga tanah meningkat di pusat aglomerasi → mendorong aktivitas ke pinggiran |
| Labor market pooling: pool tenaga kerja terampil beragam tersedia di kota besar | Kemacetan: biaya transportasi internal kota naik seiring kepadatan |
| Knowledge spillovers: interaksi tatap muka mempercepat difusi ide dan inovasi | Polusi & kualitas hidup: kota padat kurang nyaman → mendorong keluar ke suburb |
| Specialized suppliers: ekosistem pemasok yang dalam dan beragam tersedia | Biaya hidup tinggi: karyawan meminta upah lebih tinggi untuk kompensasi biaya hidup kota |
| Teori | Tokoh | Inti | Implikasi Kebijakan |
|---|---|---|---|
| Dependency Theory | Frank (1967), Cardoso & Faletto (1979) | Keterbelakangan = hasil eksploitasi sistematis negara maju terhadap berkembang melalui perdagangan yang tidak setara, investasi yang menguras surplus, dan ketergantungan teknologi. Kapitalisme global menciptakan "underdevelopment." | De-linking dari sistem global. Import substitution industrialization (ISI). State-led development. Latin America coba ini 1950–1980an — hasil campuran. |
| World Systems Theory | Wallerstein (1974), Arrighi | Core (maju, manufaktur, nilai tinggi) ↔ Periphery (berkembang, komoditas, nilai rendah) ↔ Semi-periphery (transisi). Struktur persisten tapi ada mobilitas — Korea Selatan berhasil naik dari semi-periphery ke core dalam 40 tahun. | Tidak ada solusi nasional — harus mengubah struktur sistem dunia secara keseluruhan. Solidaritas Global South. |
| Postdevelopment | Escobar (1995), Latouche | Konsep "pembangunan" itu sendiri adalah konstruksi Barat yang memaksakan model tertentu pada negara berkembang. "Development" adalah bentuk neo-kolonialisme budaya. Perlukan "pluriverse" — berbagai model kehidupan yang baik, bukan satu model universal. | Buen Vivir (Bolivia, Ecuador) — hak alam, ekonomi berbasis komunitas, menolak growth-centric development. Sangat kontroversial tapi memengaruhi konstitusi Bolivia dan Ecuador. |
- Primacy Jakarta: Jawa (7% luas) menghasilkan 57% GDP. Jakarta = primate city ekstrem. Solusi: pemindahan ibu kota (Nusantara) + program dekonsentrasi industri ke luar Jawa.
- Growth Pole Policy: Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) seperti Batam, Morowali (nikel), Sei Mangkei (sawit) = upaya menciptakan growth poles di luar Jawa. Hasilnya belum setinggi harapan untuk mengurangi kesenjangan.
- Backwash vs Spread: investasi di Jawa menyedot SDM dari luar Jawa (backwash) jauh lebih besar dari spread effects ke daerah sekitar. Program dana desa Rp1 miliar/desa adalah upaya membalik efek ini dari level paling bawah.
- Rank-size Indonesia: jauh dari ideal — Jakarta 10.5 juta vs Surabaya 2.9 juta = rasio 3.6:1, tapi jika dilihat sebagai metropolitan Jabodetabek (32 juta) vs Surabaya raya (4.5 juta) = rasio 7:1, jauh melebihi rank-size rule.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar